Cerita Pemuda Brebes Korban Penipuan TKI: Dideportasi di Jepang, Rp 94 Juta...

Cerita Pemuda Brebes Korban Penipuan TKI: Dideportasi di Jepang, Rp 94 Juta Melayang

599
0
BERBAGI
Puluhan pemuda asal Losari, Brebes melaporkan kasus dugaan penipuan ke Mapolres Brebes, Senin, 4 Desember 2017. (Foto: Raihan/Panturapost.com)

BREBES, Panturapost.com – Sedikitnya 30 pemuda di Brebes diduga menjadi korban penipuan pengiriman tenaga kerja indonesia (TKI) ke Jepang. Mereka dijanjikan untuk bekerja dengan gaji besar di Jepang, tapi tak pernah terwujud. Beberapa waktu lalu, para korban melaporkan kasus ini ke Satreskrim Polres Brebes.

Dukron, 33 tahun, pemuda asal Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Brebes terpaksa harus kembali pulang ke Indonesia. Dia dideportasi oleh pemerintah Jepang awal Februari 2017 lalu, lantaran tidak memenuhi persyaratan tinggal di sana. Padahal dia baru saja tiba di Bandara Tokyo. “Saya disuruh pulang karena visa saya visa kunjungan, padahal saya ke Jepang mau kerja,” kata Dukron di Mapolres Brebes.

Sebelum berangkat ke Jepang, selama tiga bulan, dia mengikuti pelatihan di sebuah lembaga pelatihan khusus (LPK) bahasa di Desa Limbangan, Losari. Lembaga itu dipimpin oleh Dahuri, warga setempat. Dukron dijanjikan oleh Dahuri akan bekerja di Jepang dengan gaji lebih dari Rp 30 juta per bulan. Karena itu, dia rela mengeluarkan modal untuk membayar hingga Rp 94 juta. “Katanya untuk biaya tiket, urus surat-surat, paspor dan lain-lain. Tapi sampai sana (Jepang) malah disuruh pulang,” katanya.

Menurut dia, saat itu dari  enam orang yang berangkat, hanya dua orang yang dideportasi. Sedangkan empat orang lainnya lolos dari pemeriksaan karena tidak sempat ditanyai petugas. Kini empat orang itu sudah bekerja di Jepang di perkebunan dan pabrik. “Mereka juga sempat terlantar, tidak diurus sama yang mengantar. Sampai akhirnya dibantu oleh tetangga mereka yang sudah lama tinggal di Jepang dan membantu mencari pekerjaan,” ujar dia.

Korban lainnya, Heri, 30 tahun, mengaku terpaksa hutang di bank dan menjual tanah orang tua untuk mengeluarkan biaya modal berangkat ke Jepang. Total uang yang sudah dikeluarkan sekitar Rp 100 juta yang dibayar bertahap. Dia pun menunjukkan kuitansi pembayaran dengan tandatangan di atas materai. “Katanya mau dipekerjakan di perkebunan dengan gaji minimal Rp 30 juta tapi sampai sekarang belum berangkat,” katanya.

Aktivis buruh migran Jamaludin Suryahadikusuma, yang mengadvokasi para korban menjelaskan, ada sekitar 80 orang yang menjadi korban dugaan penipuan ini. Selain dari Brebes ada juga dari Cilacap dan Indramayu, Jawa Barat. “Kebanyakan dari Brebes ada 30 orang. Mereka membayar rata-rata per orang Rp 70- Rp 90 juta. Bahkan ada yang sampai Rp 100 juta,” katanya.

Menurutnya, pemberangkatan yang dilakukan oleh lembaga pelatihan itu sudah tidak sesuai dengan prosedur. Misalnya sebelum berangkat calon TKI seharusnya menandatangani kontrak, tetapi itu tidak dilakukan. Visa paspor calon TKI juga bukan visa kerja, tetapi visa kunjungan. “Apalagi izin operasional lembaga tersebut hanya di Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten. Seharusnya dia punya izin dari Dirjen Binalattas (Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas) kemenaker. Tapi saya cek tidak ada,” katanya.

Kepala Unit PPA Satreskrim Polres Brebes IPDA Puji Haryati mengatakan, kepolisian saat ini tengah menyelidiki kasus ini. Pihaknya masih terus meminta keterangan kepada para korban dan mengumpulkan bukti-bukti. Bila perlu, pihak pengelola LPK akan dipanggil untuk dimintai klarifikasi. “Semuanya akan kami mintai keterangan,” katanya. (Mif)

LEAVE A REPLY