Ki Bonggol Gurunya Ki Enthus: Generasi Terakhir Dalang Pembuat Wayang Golek

Ki Bonggol Gurunya Ki Enthus: Generasi Terakhir Dalang Pembuat Wayang Golek

1012
0
BERBAGI
Ki Bonggol. (Foto: Raihan/Panturapost.com)

BREBES, Panturapost.com – Lelaki paruh baya itu dengan cermat dan teliti memahat kayu berdiameter sekitar 15 sentimeter dengan pisau kecil. Tangannya beberapa kali membolak-balikkan kayu yang sudah hampir membentuk kepala manusia itu sambil memperhatikan lamat-lamat. “Ini wayang golek pesanan dalang dari Kabupaten Batang. Nanti perannya jadi hansip,” kata Ki Bonggol, panggilan akrab lelaki itu, Kamis, 27 Oktober 2016.

Di rumah yang berada di Desa Kemurang Wetan, Kecamatan Kersana, Brebes inilah Ki Bonggol kerap membuat wayang golek. Dia menerima pesanan para dalang dari berbagai daerah seperti Solo, Kendal, Pemalang, dan Kabupaten Tegal. Termasuk dalang kondang Enthus Susmono, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Tegal. “Ki Enthus itu dulu mainnya wayang kulit. Terus saya sarankan untuk main golek. Karena pangsa pasarnya lebih luas, harganya juga terjangkau,” kata dia.img20161027124411

Ki Bonggol yang memiliki nama asli Sujana, merupakan generasi dalang wayang golek pantura ke sembilan. Pria berusia 60 tahun ini sudah bersinggungan dengan wayang golek sejak berusia 15 tahun. Saat itu dia hanya berperan sebagai penabuh atau nayaga.

Singkat cerita, dia mulai belajar membuat wayang golek sendiri. Dia menimba ilmu kepada ayah Ki Enthus, Ki Sumaryo, yang menurut Ki Bonggol, masih ada hubungan saudara dengan keluarganya.  Sejak saat itu, dia mulai mementaskan wayang golek buatannya sendiri. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1993, wayang golek Ki Bonggol mulai dikenal oleh banyak orang. “Waktu itu saya mulai menerima pesanan dari dalang-dalang wayang dari beberapa daerah,” kata dia. Hingga kini, sudah ribuan wayang yang telah diproduksi oleh tangan Ki Bonggol.

Baca juga: Perkenalkan.. Inilah Ki Bonggol, Gurunya Dalang Kondang Ki Enthus Susmono

Ki Bonggol termasuk dalang yang unik. Sebab, saat mementaskan wayang dia selalu menggabungkan tiga gending karawitan dari tiga daerah, yakni Cirebonan, Sunda, dan Brebesan. “Itulah yang sangat jarang dipakai oleh dalang lain. Misalnya kalau banyumas, pasti pakai banyumasan, begitu juga di Solo dan Yogyakarta,” ujar Wijanarto, sejarahwan Brebes.

img20161027124358

Ki Bonggol juga termasuk dalang yang masih mempertahankan pakem. Menurut Wijanarto, ketika pentas, alat musik yang dipakai harus menggunakan alat tradisional. Dia menolak menggunakan alat music modern. “Ketika ditawari menggunakan alat music keyboard misalnya, dia tidak mau,” katanya.

Namun sayang, saat ini belum ada generasi yang mewarisi keunikan Ki Bonggol, dalang yang juga pembuat wayang itu. Anak-anak Ki Bonggol tidak ada yang meneruskan sebagai dalang. Ki Bonggol sebenarnya sudah menyiapkan keponakannya untuk menjadi penerusnya, namun hanya sebagai pemain wayang, bukan pembuat wayang. (Rhn/Tempo)

Lihat Aksi Ki Bonggol memainkan wayang golek:

LEAVE A REPLY