Sudah Bayar Puluhan Juta, Puluhan Warga Losari Brebes Batal Bekerja di Jepang

Sudah Bayar Puluhan Juta, Puluhan Warga Losari Brebes Batal Bekerja di Jepang

10045
1
BERBAGI
Puluhan pemuda asal Losari, Brebes melaporkan kasus dugaan penipuan ke Mapolres Brebes, Senin, 4 Desember 2017. (Foto: Raihan/Panturapost.com)

BREBES, Panturapost.com – Iming-iming bekerja di luar negeri dengan gaji besar memang menggiurkan. Tapi yang namanya iming-iming tidak sepenuhnya bisa diwujudkan. Seperti apa yang dialami oleh puluhan pemuda di Losari, Brebes akhir-akhir ini. Mereka rela mengeluarkan duit puluhan juta agar bisa bekerja di Jepang, tapi akhirnya batal.

Mereka yang menjadi korban rata-rata berusia 20-40 tahun. Di Kecamatan Losari, jumlahnya mencapai lebih dari 30 orang. Mereka mengaku dijanjikan bekerja di Jepang dengan gaji minimal Rp 30 juta per bulan. “Rata-rata sudah keluar duit di atas 70 juta,” kata Azka Abdillah, salah seorang korban.

Menurutnya, para korban membayar uang tersebut ke sebuah lembaga pelatihan yang berada di Desa Limbangan, Kecamatan Losari. Pengelolanya bernama Dahuri, yang merupakan warga setempat. Untuk bisa berangkat ke sana, mereka diwajibkan mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Para peserta juga diminta membayar uang berkisar Rp 50-90 juta.

Azka sendiri mengaku sudah diberangkatkan ke Jepang pada awal Februari 2017 lalu. Tapi baru sampai bandara di Tokyo, dia disuruh kembali lagi ke Indonesia alias dideportasi, lantaran tidak memenuhi persyaratan. Visa yang dibawa bukan visa kerja tapi visa kunjungan.  “Saya ditanya macam-macam sama petugas di sana dan diminta kembali ke Indonesia,” katanya.

Padahal, Azka sudah mengeluarkan uang lebih dari 60 juta untuk biaya pemberangkatan dan mengurus surat-surat.  Dia juga sebelumnya telah mengikuti pelatihan bahasa selama tiga bulan. “Setelah pulang, kami kan minta ganti uangnya, tapi tidak bisa,” katanya.

Heri, 30 tahun, mengalami nasib hampir serupa. Dia bahkan mengaku sudah mengeluarkan duit sampai Rp 100 juta, tapi sampai saat ini belum juga diberangkatkan ke Jepang. “Padahal untuk mendapatkan uang itu saya harus utang sana sini, sampai jual tanah,” katanya.

Kini, kasus ini sudah dilaporkan ke Unit PPA Satreskrim Polres Brebes. Sebanyak 13 korban telah mendatangi Mapolres Brebes pada Senin, 4 Desember 2017. “Kami masih melakukan penyelidikan. Semua kami mintai keterangan, termasuk pengelola LPK,” kata Kanit PPA Satreskrim Polres Brebes Ipda Puji Haryati. (Rhn)

1 KOMENTAR

  1. Merusak nama baik Sponsor yang keliling setiap desa yang membantu LPK nyari orang…. Bila perlu Hukum aja pak… Hukum mati pak.. Saya bagian yang matiin juga ngga papa

LEAVE A REPLY