Ditolak Puskesmas, Nyawa Bayi di Brebes Ini Tak Bisa Diselamatkan

Ditolak Puskesmas, Nyawa Bayi di Brebes Ini Tak Bisa Diselamatkan

6728
5
BERBAGI
Ironi Kabupaten Peduli HAM, Tapi Ada Anak Meninggal Ditelantarkan Puskesmas

BREBES, Panturapost.com – Icha Selfia, bayi asal Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Brebes meninggal dunia, Minggu, 10 Desember 2017. Bayi berusia 7 bulan ini nyawanya tak tertolong karena tidak mendapatkan penanganan dari puskesmas setempat.

Emiti, 32 tahun, mengungkapkan anak terakhirnya itu mulai merasakan sakit sejak Jumat malam. Icha mengalami gejala muntah dan berak (Mutaber). Malam itu, dia mambawa anaknya ke tukang urut. “Tapi sama tukang urutnya suruh dibawa ke puskesmas,” ungkap dia saat ditemui di runahnya, Senin, 11 Desember 2017.

Keesokan harinya, sekitar pukul 10.00 WIB dia jalan kaki membawa anaknya ke puskesmas yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya. Tapi bukannya mendapat penanganan, sampai puskesmas dia malah ditelantarkan. “Saya tidak dilayani sama sekali,” katanya.

Simak juga videonya: 

Alasannya, menurut Emiti, dia tidak membawa Kartu Indonesia Sehat (KIS). Dia hanya membawa kartu jaminan kesehatan miliknya. “Anak saya kan belum punya. Saya bawa KTP sama jamkesmas punya saya. Sampai sana malah dicuekin. Hampir setengah jam saya berdiri seperti patung,” kesalnya.

Merasa tak akan mendapat penanganan, dia pun akhirnya pulang. Dia sempat mampir ke bidan di dekat rumahnya, tapi yang bersangkutan tidak ada. “Akhirnya saya beli obat seadanya di warung. Saya juga kasih ASI bisa, mau minum dia. Tapi masih belum sembuh,” ujar dia.

Keesokan harinya, Minggu, 10 Desember 2017, Icha meninggal dunia. Nyawa bayi malang itu, tak bisa diselamatkan karena lambatnya penanganan. “Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu,” ungkap Emiti.

Kepala Dinas Kesehatan Brebes, Gunadi, mengatakan pihaknya sudah mendapat laporan soal kasus itu. Dia berjanji akan menindak tegas petugas puskesmas yang menelantarkan pasien. “Kami akan cek dulu kasus ini. Kalau sanksi pasti ada,” katanya. (Rhn)

5 KOMENTAR

  1. Paling mudah menindak orang.
    Salahnya petugas terdepan/perawat terlalu patuh menjalankan system.
    Takut disalahkan atasannya dll.
    Sekali lagi system yg harus dibenahi.
    Kejadian seperti ini sering terdengar dan bukan hanya sekali duakali.
    Pecatin saja seluruh tenaga perawat dan itu tidak akan menyelesaikan masalah kalo sistem yg dipake itu itu juga.
    Kesalahan fatal ini terletak di MOU antara pihak BPJS dan instansi kesehatan.
    Kalau mau tepat sasaran dan berani bertindak… Pecatlah yg sudah bikin kebijakan pelayanan kesehatannya.
    Perawat hanyalah pelaksana kebijakan yg menjalankan aturan.

  2. Maaf2 masalahnya Bukan mereka takut menyalahi sistem Sistem di lakukan itu memang wajib tapi jika Keadaan darurat sistem yang di gembar-gembor belakangan itu hanya di jadikan alasan saja Percayalah INI SEMUA TERLEPAS DRI ITU KENYATAAN NYA MEREKA TIDAK MENGEMBAN AMANAH SESUAI DENGAN PROFESI MEREKA sudah banyak bahkan terlalu banyak MINUS dari PUSKESMAS yang bersangkutan Tapi baru X ini memang sudah tidak bisa Di TOLERIN lagi Saya sudah sering dapat pelayanan tidak mengenakan di tempat tersebut TAPI KARENA SAYA BERANI UNTUK PROTES pling tdak SAYA BISA MINTA HAK SAYA SEBAGAI PASIEN .. Intinya Kejadian ini sudah lama terjadi di puskesmas tapi blum ada yg berani untuk Up para staf serta semua yang bersangkutan di Puskesmas seakan besar KEPALA berbuat semena mena . Kini bahkan saya berharap Mereka yang terlibat di Pecay dengan tidak hormat .

  3. paling g suka sama orang2 yg ngga peduli sama org lain,pa lg org miskin,klo dmn2 psti d sepelein/d pndang sbelah mata,dengan alasan harus sesuai prosedur dri pukesmaslh/rumah sakit..klo kaya gitu mah g usah jd dokter ato perawat klo ngga mau nglayanin org sakit,pecat2in saja klo ngga tutuo ja to puskesmasnya..lgian ngga da guna jga kn klo puskesmas/ rumah sakit nglayaninnya pilih pilih org..

LEAVE A REPLY