Petani Brebes: Nandur Bawang, Tukule Utang. Maksudnya?

Petani Brebes: Nandur Bawang, Tukule Utang. Maksudnya?

1835
0
BERBAGI
Aksi demo petani Brebes di depan kantor Bupati, Jumat, 29 Desember 2017. (Foto: Irsyam Faiz/Panturapost,com)

BREBES, Panturapost.com – Ratusan petani bawang merah turun ke jalan, Jumat, 29 Desember 2017. Mereka memprotes anjloknya harga bawang merah dalam sebulan terakhir ini. Tak tanggung-tanggung, harga bawang mereh merosot tajam mencapai Rp 4.000 per kilogram. Harga normal bawang merah mencapai Rp 15 ribu per kilogram.

Para petani dari berbagai kelompok tani itu menggeruduk kantor bupati Brebes. Mereka membawa spanduk dan poster berisi tuntutan mereka. Salah satu spanduk yang menarik perhatian adalah yang berisi tulisan: Nandur Bawang Tukule Utang atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah menanam bawang tumbuhnya hutang.

Keberadaaan spanduk dengan pesan tersebut bukan tanpa alasan. Seperti diketahui, para petani bawang merah kerap berhutang dulu ke perbankan untuk modal membeli bibit, pupuk, dan sebagainya.

Salah seorang petani asal Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Wanasari, Sugeng, mengungkapkan, dirinya sudah hutang puluhan juta untuk modal menanam. Tapi setelah panen, dia tak mendapatkan hasilnya. “Setelah panen harganya malah anjlok, kami kan rugi,” keluhnya.

Sementara itu, menurut petani lainnya, Subhan, 42 tahun, mengatakan banyak petani bawang merah yang rela berhutang dari KUR (kredit usaha rakyat) yang disediakan pemerintah. Mereka tak tahu sekarang harus membayar utang-utang tersebut dengan apa. “Karena itu, kami minta pemerintah kabupaten Brebes melobi perbankan, agar kami diberi keringanan,” ujarnya.

Aksi demo yang berlangsung pukul 09.00 WIB berakhir hingga sore hari. Bupati Brebes Idza Priyanti yang saat itu sedang ada acara rapat di Semarang langsung pulang ke Brebes untuk menemui para petani. “Kami akan tampung semua tuntutan petani. Kami juga akan menindaklanjuti ke Kementerian pertanian,” katanya. (Rhn)

LEAVE A REPLY