Cerita Siswi SD di Tegal Korban Kekerasan Belasan Teman Sekolahnya hingga Masuk...

Cerita Siswi SD di Tegal Korban Kekerasan Belasan Teman Sekolahnya hingga Masuk Rumah Sakit

299
0
BERBAGI
FF bersama orang tuanya saat ditemui di rumahnya, Senin, 16 April 2018. (Foto: Reza Abineri/panturapost.id)

TEGAL – Kasus bullying atau kekerasan di lingkungan sekolah seperti tidak ada habisnya. Kali ini kasus bullying terjadi di SD Negeri 4 Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.

Seorang siswi yang duduk di Kelas V, FF (12), diduga menjadi korban kekerasan oleh belasan teman satu kelasnya. Mereka memukul kepala dan perut FF hingga pingsan.

Ayah korban, Hartoyo, menceritakan peristiwa kekerasan anaknya yang terjadi pada Senin (9/4) lalu. Menurut dia, kejadiannya berlangsung saat jam belajar, secara bergantian para pelaku memukul perut dan kepala korban.

“Awalnya satu pelaku memukul kepala, kemudian dilanjutkan ke perut anak saya,” kata Hartoyo saat ditemui, Senin (16/4).

Siang hari saat itu, FF berangkat sekolah seperti biasa. Kebetulan Kelas 6 sedang ada menjalani Try Out, sehingga FF baru berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. “Kebetulan anak saya saat pagi hari membantu ibunya berjualan ikan di Pelabuhan Jongor, Tegalsari,” ujarnya.

Karena sering berjualan ikan, terkadang aroma asin tercium dari tubuh FF. Aroma ikan asin itulah yang, menurut FF seperti yang dikatakan Hartoyo, memicu terjadinya bullying. FF kerap kali diejek ‘bau terasi’.

Dari ejekan itulah kemudian berujung pada tindak kekerasan. Hartoyo mengatakan, wali kelas FF sedang tidak berada di dalam kelas saat peristiwa terjadi, walaupun saat itu masih dalam jam mengajar.

“Memang pas terjadi kekerasan wali kelas tengah keluar kelas,” imbuh Hartoyo.

Akibat kekerasan itu, anaknya langsung dibawa ke ruang UKS karena pingsan. Sehari kemudian, kondisinya bahkan semakin parah, yakni korban mengalami mimisan hingga muntah-muntah.

Bersama istrinya, Munawaroh, Hartoyo membawa anaknya ke rumah sakit. Sang anak bahkan harus dirawat selama tiga hari.

“Diopname hingga visum, namun CT Scan tidak,” katanya.

Pihaknya akan tetap melanjutkan kasus itu diproses oleh pihak kepolisian. Alasannya, pihak keluarga pelaku tidak memiliki niat untuk meminta maaf.

“Ketika keluarga kesebelas siswa datang ke rumah sakit, sampai sekarang belum ada permintaan maaf,” ucap Hartoyo. “Minimal kami minta ada penanggungan biaya perawatan di rumah sakit. Namun kami hanya diberikan uang Rp 700 ribu saja.”

Ketika dimintai konfirmasi, Kepala SDN 4 Panggung, Wati Kustanti, membenarkan kasus kekerasan itu. Namun dia berkilah dengan mengatakan, FF tidak dipukul seperti penuturan dari pihak keluarga korban.

“Kemarin anak-anak sudah ditanya, kata mereka tidak memukul hanya dicubit,” kata Wati ketika ditemui di ruang guru.

Dengan didampingi wali kelas korban, orang tua salah seorang pelaku menyayangkan keputusan pihak orang tua korban yang terlanjur melaporkan ke polisi. Padahal, menurutnya, pihak sekolah berniat menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.

“Kita sudah dapat surat klarifikasi dari kepolisian besok pagi,” katanya.

Saat ini kasus tersebut sedang ditangani oleh Unit PPA Polresta Tegal, dengan pihak keluarga korban yang pertama dipanggil untuk dimintai keterangan oleh polisi. (Reza Abineri)

Berita ini sudah tayang di Panturapost.id

LEAVE A REPLY