Lereng Gunung Slamet akan Dibor Hingga Kedalaman 3,5 Kilometer untuk Proyek Panas...

Lereng Gunung Slamet akan Dibor Hingga Kedalaman 3,5 Kilometer untuk Proyek Panas Bumi

824
0
BERBAGI
Gunung Slamet. (Foto: www.saegeothermal.co.id)

BREBES – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) telah memasuki tahap pengeboran. PT Sejahtera Alam Energi (SAE) pada Senin 19 Maret 2018 mulai mengebor untuk sumur kedua.

Manager Area PT SAE Bintang Sasongko, menjamin pengeboran itu tidak akan menggangu sumur penduduk sekitar. Menurut dia, semua aktivitas pengeboran akan dikontrol secara ketat. “Sampai saat ini tidak ada dampak dalam arti terganggu oleh kegiatan pemboran,” katanya.

Dia menambahkan, di sumur eksplorasi, pihaknya akan melakukan pengeboran hingga kedalaman 3,5 kilometer. Sedangkan sumber mata air warga hanya memiliki kedalaman 100-200 meter.  “Kami punya pengalaman sebelumnya tidak ada dampak, masalah mata air terganggu. Sebab, sumur kita lebih dalam dibandingkan milik warga,” katanya kepada Panturapost.id.

Dia juga menjamin, sumur akan disemen atau disaring. Tujuannya, agar material tanah hasil pengeboran tidak mengotori mata air warga. “Jadi akan ada semacam pemfilteran dari dampak pengeboran,” tukasnya.

Menurut dia, tahap pengeboran itu kemungkinan masih akan dilakukan antara lima hingga delapan sumur. “Pengeboran itu bisa dilakukan lima hingga delapan. Karena kita tahu, Gunung Slamet kan belum pernah dibor. Bahasanya itu eksplorasi,” terang

Sumur pertama, kata dia, telah dihentikan pengeboran di kedalaman 1.100 meter. Alasannya, di lokasi itu tidak ditemukan adanya energi panas bumi.

Dijelaskan, sumur kedua ini akan melistriki sampai 220 megawatt. Dengan tenggat waktu pengerjaan mulai 75 hari ke depan. “Tadi malam dimulainya (pengeboran). Dan akan selesai tiga bulan kedepan,” tandasnya.

Seperti diketahui, Pada Desember 2017 silam PT SAE telah memulai tahap pengeboran di lereng Gunung Slamet. Pada sumur pertama, kedalamannya mencapai 2 ribu meter.

Panas Bumi atau geothermal merupakan proyek nasional dengan anggaran APBN hingga Rp 15 triliun. Dalam proyek skala nasional itu, pemegang saham SAE terdiri dari STEAG PE GmbH (Jerman) sebesar 75 persen dan PT Trinergy (Indonesia) sebanyak 25 persen, dalam rentang waktu 30 tahun.

Kegiatan eksplorasi panas bumi di WKP Baturraden dilaksanakan berdasarkan Kepmen ESDM No. 4577.K/30/MEM/2015 dengan rekomendasi UKL-UPL baru No.660.1/BLH.II/1191 tertanggal 08 Juni 2016 dan Izin Lingkungan No.660.1/BLH.II/1192, tertanggal 08 Juni 2016.

Periode eksplorasi, perusahaan itu diperkenankan menggunakan lahan hutan sebesar 488.28 hektar. Ini sesuai dengan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) tahap eksplorasi nomor 20/1/IPPKH/PMA/2016 diterbitkan pada tanggal 5 Oktober 2016.

Luas lahan hutan telah dibuka PT SAE tidak lebih dari 45 hektar. Sedangkan Wilayah Kerja Panas Bumi Baturraden sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1557.K/30/MEM/2010 seluas 24.660 hektar. (Rez)

 

Berita ini sudah tayang di Panturapost.id

LEAVE A REPLY