Petani Brebes Murka Bawang Impor Ilegal dari India Beredar di Pasaran

Petani Brebes Murka Bawang Impor Ilegal dari India Beredar di Pasaran

553
0
BERBAGI
Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) menemukan bawang merah impor ilegal beredar di pasaran. (Foto: Yunar Rahmawan/Panturapost.id)

BREBES – Petani di Brebes menemukan peredaran bawang impor ilegal yang sudah menyeluruh di semua wilayah. Bawang tersebut berasal​ dari India dengan ukuran diameter agak besar dari pada bawang lokal, warna merah khas bawang juga pudar.

Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Juwari, mengatakan bawang impor tersebut menjatuhkan harga bawang lokal yang sebelumnya Rp 23 ribu per kilogram jadi turun Rp 20 ribu per kilogram. Dia menyebut, banyak petani yang marah dengan beredarnya temuan itu. Sebab, akan mengancam harga bawang lokal.

“Kami delapan bulan terpuruk, karena harga turun drastis di angka Rp 8.000 per kilogram, ditambah bencana banjir awal tahun yang merendam ribuan hektar sawah. Setelah harga naik dan petani senang, tiba-tiba hadir bawang impor dari India dengan harga murah, itu menyiksa kami,” ungkap Juwari di Aula KUD Wanasari, Rabu 2 Mei 2018.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan ABMI, di pasar-pasar saat ini banyak ditemukan bawang bombai impor dari India yang berukuran kecil. Bawang impor berdiameter kurang dari lima centimeter itu sudah tersebar merata di semua wilayah Indonesia. Dalam penjualannya, bawang tersebut dibanderol Rp 15.000 per kilogram.

Masuknya bawang bombai berukuran kecil ini telah melanggar Keputusan Menteri Pertanian Nomor 105/kota/SR.130/D/12/2017, tentang karakteristik bawang bombai yang dapat diimpor yakni berdiameter minimal 5 sentimeter. Namun pada kenyataannya, yang masuk ke Indonesia, banyak yang berukuran kurang dari 5 sentimeter.

Dengan adanya keputusan menteri itu, Badan Karantina Nasional seharusnya tidak meloloskan masuknya bawang tersebut. “Bawang bombai ini berukuran kecil hampir sama dengan bawang lokal, ini yang membuat mereka para importir bisa meraup untung banyak, biasanya dioplos dengan bawang lokal, sehingga harga bawang lokal turun,” jelas Juwari.

Selain itu, impor bawang tersebut juga melanggar UU No. 19 Tahun 2013, tentang perlindungan dan pemberdayaan petani dan juga melanggar UU No. 13 Tahun 2010 tentang hortikultura. Merasa dirugikan, ABMI akhirnya melaporkan keluhannya tersebut kepada Kementerian Pertanian dan instansi terkait untuk menangani kasus tersebut.

“Kami menuntut pemerintah mengusut dan menghentikan impor bawang ini, menindak tegas importirnya, tolong diperiksa terlebih dahulu sebelum diterima. Karena yang diperbolehkan impor adalah bawang Bombay dengan diameter lebih dari 5 cm,” tegas Juwari.

Reporter: Yunar Rahmawan

Berita ini sudah tayang di Panturapost.id

LEAVE A REPLY