Rujak ‘Bebek’ yang Sudah Jarang Ditemui di Kampung-kampung

Rujak ‘Bebek’ yang Sudah Jarang Ditemui di Kampung-kampung

75
0
BERBAGI
Rujak bebek atau rujak tumbuk di Brebes. (Foto: Yunar Rahmawan)

BREBES – Cuaca panas di siang hari, tentunya membuat sebagian besar orang ingin memakan makanan yang menyegarkan. Paling tidak bisa mengusir rasa ngantuk yang mendera. Banyak pilihan makanan dan minuman yang menyegarkan.

Salah satunya rujak bebek (tumbuk) yang berbahan buah-buahan. Kesegaran air yang keluar dari rujak bebek inilah yang membuat orang selalu mencarinya dikala tengah hari. Rujak bebek sendiri merupakan makanan asal Cirebon yang sudah menyebar ke seluruh nusantara.

Pedagang keliling rujak ‘bebek’ sudah jarang ditemukan di kampung-kampung. Meski begitu, masih ada penjualnya.  Salah satunya Wian (55) dari Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes yang sudah 15 tahun berjualan rujak bebek.

Bahan-bahan dari rujak bebek, tampak komplit di dalam dua box kayu yang ia pikul. “Ada buah, dekoran, terasi, garam dan gula merah dan rawit,” tuturnya.

Rujak bebek atau rujak tumbuk di Brebes. (Foto: Yunar Rahmawan)

Untuk proses pembuatannya, Wian menggunakan alat tumbuk berbahan kayu. Satu demi satu bahan dimasukkan, mulai dari terasi, garam dan gula merah. Disusul buah yang terdiri dari bengkoang, mangga muda, ketela, belimbing, jambu batu, kedondong.

Setelah halus, rujak kemudian disajikan menggunakan media berbahan daun pisang yang ia sebut dekoran. “Kalau dimakan di sini, pakai dekoran,” jelas Wian.

Ketika pembelinya adalah pengendara motor yang lewat, maka ia gunakan plastik sebagai pembungkus rujak. “Dibungkus pakai plastik saja, tapi dekoran dan sendok dari daun saya sertakan,” jelas penjual yang pernah merantau di Jakarta itu.

Salah satu pembeli, Fian (23) megatakan, ia membeli rujak bebek karena cuaca panas. “Pengin yang seger-seger, pas lewat ada rujak bebek, skalian beli,” tuturnya.

Meski Fian menggunakan sepeda motor, namun ia ingin menyantap rujak menggunakan daun pisang. “Iya, tadi dikasih wadah dan sendok, soalnya lebih sedap kalau pake wadah daun,” tuturnya.

Untuk satu porsi rujak bebek, penjual rata-rata mematok harga Rp 5 ribu. Hingga kini, para penjaja rujak bebek termasuk Wian, masih berdagang menggunakan pikulan.

Artikel ini sudah ditayangkan di Panturapost.id

LEAVE A REPLY