Lomba Burung Merpati Kolong Ternyata Awalnya dari Brebes

Lomba Burung Merpati Kolong Ternyata Awalnya dari Brebes

587
0
BERBAGI
Lomba merpati kolong. (Foto: Yunar Rahmawan)

BREBES – Para pecinta merpati tinggi, sudah tentu sering mengikuti perlombaan. Tempat perlombaan itu biasanya berada di tanah lapang dengan empat tiang yang ditautkan tali bagian atasnya hingga membentuk bujur sangkar.

Siapa sangka, konsep perlombaan ini ternyata kali pertama ditemukan oleh orang Brebes. Dia adalah Wahyudin Noor Aly yang akrab dipanggil Goyud.

Menurut Goyud, rancangan arena lomba merpati itu ia temukan pada tahun 1980-an. Dimana saat itu, kompetisi merpati tinggi dilakukan hanya pada lingkup kecil antar tetangga saja. “Dulu hanya lingkungan RT saja, dan merpatinya juga cuma terbang rendah, siapa yang lebih dulu mendarat dia yang menang,” jelas Goyud.

Konsep perlombaan dengan sistem demikian sudah tentu tidak dapat mengumpulkan para pecinta merpati. Karena peserta tidak banyak dan tidak ada babak penyisihan.

Atas dasar itu, dirinya berpikir untuk mencari ide tentang konsep dan sistem perlombaan yang berkualitas dengan peraturan yang bisa dipatenkan pada setiap ajang perlombaan. “Saat itu saya cari tau di berbagai daerah, ternyata sama juga, akhirnya saya coba untuk membuat konsep kalangan terlebih dahulu,” tuturnya.

Ide dari konsepnya bermula dari lomba merpati terbang tinggi, dimana juri lomba kesulitan dalam menentukan finisnya. “Jadi arena kotak itu menjadi media untuk mendarat, sementara finishnya adalah kolong tali di bagian atas tiang,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, aturan juga ikut berubah. “Tapi sekarang sudah berubah, kalau dulu harus ada tempat di atas tiang untuk juri menilai siapa yang duluan masuk kolong, kalau sekarang penilaian cukup saat merpati nempel tanah,” terangnya.

Tali yang dikaitkan antar tiang tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa merpati terbang tinggi dan menukik melewati kolong tersebut. “Merpati betina yang dipegang pemilik berada di dalam kotak arena itu, jadi merpati jantan akan menukik dari atas dan harus melewati kolong, kalau tidak yaa gugur,” jelas Goyud.

Hingga kini, konsep lapangan perlombaan yang dikenalkan Goyud sudah dipakai di berbagai daerah di Indonesia. “Alhamdulillah, saya lihat di luar Jawa juga memakai kalangan dan kolong seperti itu,” tuturnya yang juga Ketua MPC PP Brebes.

Meski konsep rancangan awal ia temukan, dan sudah dipakai oleh semua pecinta merpati di seluruh Indonesia, namun Wahyudin mengaku belum mempatenkan temuannya tersebut. (Yunar)

Berita ini sudah ditayangkan di Panturapost.id

LEAVE A REPLY