Tuntutan Tak Dipenuhi, Mahasiswa UMUS Brebes Bakar Jas Almamater

Tuntutan Tak Dipenuhi, Mahasiswa UMUS Brebes Bakar Jas Almamater

2044
0
BERBAGI
Mahasiswa UMUS membakar jas almamater mereka, Selasa, 21 November 2017. (Foto: Akun Facebook Candy Bungamelody)

BREBES, Panturapost.com – Aksi demonstrasi ratusan mahasiswa Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Selasa, 21 November 2017, berujung pembakaran jas almamater. Aksi itu dilakukan atas keprihatinan mereka terhadap pihak yayasan yang tak mengindahkan tuntutan mereka, yakni mengembalikan jabatan rekor kepada Nurul Qomar.

Pembakaran jas alamamater itu dilakukan sekitar pukul 13.00 WIB. Seusai menunaikan Salat Dzuhur berjamaah di depan gedung rektorat, mereka kembali melanjutkan demo. Tak lama kemudian, para mahasiswa mengumpulkan jas berwarna biru kebanggaan mereka di halaman rektorat.

Dengan jas almamater tersebut, mereka sempat membentuk “RIP UMUS” sebagai bentuk keprihatinan mereka terhadap kondisi kampus saat ini. Setelah itu, mereka baru membakarnya. “Kami mengancam mundur ramai-ramai jika tuntutan kami tidak dipenuhi,” kata Edi Nurjaya, salah seorang mahasiswa.

Foto: Facebook Gilang Dagh Gax Waraz

Sebelumnya, dalam aksinya, mahasiswa membentangkan spanduk dan poster berisi tuntutan. Beberapa di antaranya bernada satir dan sindiran. Seperti: ” Turunkan Mafia UMUS”, “Game Over #Mukson”, “lemah teles, gusti Allah sing bales” dan sebagainya.

Di tengah aksi itu, Ketua Yayasan Muhadi Setiabudi, Muhadi, datang menemui massa. Muhadi menjelaskan bahwa pengunduran diri Qomar merupakan kehendaknya sendiri. Pihak yayasan tidak ikut campur tangan.

Menurut Muhadi, keinginan Qomar mengundurkan diri sudah disampaikan kepadanya sejak empat bulan lalu. Saat itu, pelawak senior itu menemui langsung Muhadi. “Saya bilang kami masih membutuhkan Pak Qomar. Ini kan masih proses akreditasi. Nah ini sudah selesai akreditasi, beliau lalu mengajukan surat pengunduran diri.”

Ketua Yayasan Muhadi Setiabudi, Muhadi, menemui mahasiswa yang demo di depan kampus UMUS Selasa, 21 November 2017. (Raihan/Panturapost.com)

Surat itu, kata Muhadi, disampaikan pada 14 Novemver 2017. Saat itu, Wakil Rektor II Maksori yang datang langsung ke rumah Qomar di Cirebon untuk mengambil surat itu. “Sesuai isi surat itu Pak Qomar mengundurkan diri karena mau ikut Pilkada,” katanya.

Yayasan lalu menggelar rapat dan memutuskan Maksori sebagai pengganti Qomar. Hal itu sebagaimana rekomendasi dari surat pengunduran diri Qomar. “Di surat itu Pak Qomar menunjuk Pak Maksori jadi rektor,” katanya.

Mendapatkan penjelasan itu, mahasiswa tidak percaya dan buru-buru menunjukkan surat dari DPC Demokrat tertanggal 14 November 2017. Surat yang ditandatangani Ketua DPC Demokrat Kabupaten Cirebon itu berisi tentang pengunduran diri Qomar sebagai calon bupati Cirebon.

Namun, Muhadi mengungkapkan, keputusan yaaysan tidak bisa diganggu gugat. Karena itu dia meminta mahasiswa menerima apapun keputusan yayasan. “Keputusan yayasan tidak bisa diganggu gugat.”

Soal ancaman pengunduran diri masal dari mahasiswa, Muhadi mengaku tak ambil pusing. “Kalau kehendak kalian mau mundur ya silakan. Yang penting saya tidak pernah menghendaki, tidak menyuruh,” katanya. (Rhn)

LEAVE A REPLY