Polisi Usut Kasus Penganiayaan Mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu

Polisi Usut Kasus Penganiayaan Mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu

2282
0
BERBAGI
Syukron Ma'mun, mahasiswa korban penganiayaan datang ke mapolres Brebes, Selasa, 9 Januari 2018. (foto: Irsyam Faiz)

BREBES, Panturapost.com – Kasus penganiayaan yang melibatkan sejumlah mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu (UPB) terus berlanjut. Kepolisian Resor Brebes mengusut kasus ini dengan memanggil sejumlah terduga pelaku dan korban ke Mapolres Brebes, Selasa, 9 Januari 2018.

Pada hari itu, kepolisian mempertemukan kedua belah pihak, antara terduga pelaku dan korban, untuk mendapatkan keterangan yang pasti. Sebab, sebelumnya, antara keterangan pelaku dan korban berbeda satu sama lain. “Ini pihak dikonfrontir keterangannya dengan para pelaku,” kata kuasa hukum korban, Ana Adi Anto, kepada Panturapost.com, Selasa siang.

Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa bernama Syukron Ma’mun dianiaya oleh sejumlah mahasiswa dari UKM pecinta alam Mahapala di kampus tersebut. Penganiaan ini beraal karena korban mengkritik lembaga pecinta alam tersebut lewat pesan WA yang dikirim pada 7 Desember 2017 kepada salah satu anggota Mahapala.

“Klien kami mengkritik karena mahasiswa pecinta alam di UPB kenapa diam saja dan tidak ada gerakan untuk memprotes proyek Panas Bumi di lereng Gunung Slamet. Memang kalau saya lihat isi kritikannya lumayan pedas,” kata kuasa hukum korban.

Kritikan itu lalu menyebar ke sejumlah personel Mahapala dan membuat mereka meradang. Lalu pada 11 Desember 2017, Syukron dipanggil ke markas Mahapala untuk diinterogasi. “Tak hanya itu, saya juga kepala saya disulut dengan rokok. Saya ditendang dan dipukuli hingga pingsan,” kata Syukron.

Baca juga: Penjelasan Rektor Universitas Peradaban Soal Kasus Penganiayaan Mahasiswa

Menurut dia, penganiayaan itu terjadi dari pagi hingga sore. Dia mengatakan saat itu ada 10 orang di ruangan itu. Tetapi yang melakukan pemukulan hanya lima orang. “Setelah tersadar dari pingsan, saya melihat ada mahasiswa laki-laki sepertinya senior di UKM itu, saya disiram kopi panas di dada saya,” ucapnya.

Seusai kejadian itu, dia tak berani melaporkan kepada keluarganya. Sebab, dia mengaku ketakutan karena diancam akan dibunuh jika melaporkan ke polisi. “Saya juga diancam akan dikubur hidup-hidup,” ujar dia.

Akhirnya pada Rabu, 13 Desember 2017, dia menceritakan apa yang dialaminya kepada buliknya. Saat itu juga, Syukron langsung dibawa ke RSUD Bumiayu untuk divisum. Hasilnya tulang belikat di sebelah kanannya retak dan harus dirujuk ke rumah sakit Ortopedi di Purwokerto. Syukron sempat menjalani perawatan di RS tersebut hingga Minggu.

Sementara itu, menurut paman salah seorang pelaku, Hani, mengungkapkan berdasarkan cerita dari keponakannya memang benar ada penganiayaan. Tapi, saat itu korban tidak mengalami luka yang parah. Buktinya, kata dia, setelah penganiayaan itu korban bisa pulang sendiri memakai sepeda motor. “Padahal sudah ditawari mau diantar apa tidak, tapi tidak mau,” katanya.

Dia juga membantah keponakannya telah mengancam akan membunuh korban. Menurutnya, korban justru ditawari makanan dan dipersilakan pulang. “Keponakan saya bilang tidak ada ancaman pembunuhan,” kata dia.

Kini kasus ini sedang ditangani oleh Unit I Satreskrim Polres Brebes. Kepala Satreskrim Polres Brebes, AKP Arwansa, mengungkapkan, para terduga pelaku yang diperiksa hari ini berstatus sebagai saksi. Kasus ini masih dalam penyelidikan. “Masih kami periksa baik dari korban maupun pelaku,” katanya. (Rhn)

LEAVE A REPLY