Libur Tahun Baru, Pengunjung Wisata Hutan Mangrove Pandansari Brebes Membludak

Libur Tahun Baru, Pengunjung Wisata Hutan Mangrove Pandansari Brebes Membludak

1161
0
BERBAGI
Track untuk pejalan kaki di kawasan hutan bakau di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes. (Foto: Raihan/Panturapost.com)
BREBES, Panturapost.com  – Wisata hutan mangrove saat ini menjadi pilihan favorit warga untuk menghilangkan kepenatan rutinitas sehari-hari. Pada libur Natal dan Tahun Baru 2017, pengunjung di wisata mangrove Pandansari yang berada di Desa Kaliwilingi Brebes membludak. Jumlah pengunjung di objek wisata yang baru beroperasi satu tahun terakhir ini, meningkat hampir lima kali lipat.
Koordinator pengelola Wisata Mangrove setempat Mashadi, mengatakan jumlah pengunjung pada hari biasa sekitar 400-500 orang per hari. Sedangkan di akhir pekan mencapai 700 orang per hari. Namun, saat libur akhir tahun kemarin, pengunjung membludak hingga 3.500 orang per hari. “Hampir lima kali lipat,” kata dia, 2 Januari 2017.
Pengunjung yang datang bukan hanya dari Brebes saja, tetapi juga dari luar daerah, seperti Banyumas, Pemalang,  Tasikmalaya, Indramayu, dan Jakarta. Mereka datang untuk memanfaatkan libur panjang. “Yang datang rata-rata keluarga dan anak-anak sekolah,” kata dia. Hingga Senin, pengunjung di objek wisata tersebut masih ramai.
Untuk mengantisipasi penumpukan pengunjung, pihak pengelola memberlakukan sistem buka tutup. Loket dibuka pada jam-jam tertentu, yaitu pada pukul 07.00-11.00 WIB, pukul 13.00-14.00 WIB, dan pukul 15.00-16.00 WIB. “Selain jam-jam itu, loket ditutup. Pengunjung kami batasi hanya sampai pukul 18.00 WIB. Kalau yang mau menikmati matahari terbenam bisa ketika di perahu saat perjalanan pulang,” kata dia. Meski hari libur, pihak pengelola tidak menaikkan tariff masuk. Pengunjung hanya dikenakan Rp 15 ribu dengan fasilitas perahu.
Sebagai informasi, wisata hutan mangrove ini pada dekade 1980-an hanyalah areal tambah ikan. Lantaran terus dilanda abrasi, maka warga sekitar bergotong royong menanam pohon mangrove. Hingga kini, wisata hutan bakau tersebut masih dikelola secara swadaya oleh warga sekitar. Di objek wisata ini, pengunjung bisa mengelilingi hutan bakau dengan perahu. Pengunjung juga bisa menikmati rimbunnya hutan dengan berjalan kaki melalui tracking selebar sekitar 1,5 meter.  Fasilitas di objek wisata tersebut masih terus dikembangkan, seperti pembangunan tracking untuk jalan kaki sepanjang 700 meter, menara pandang, gazebo, tempat ibadah, dan fasilitas lainnya.
Salah seorang pengunjung, Supramono, 45 tahun, mengaku tak ingin menyia-nyiakan libur akhir tahun baru ini. Dia yang datang bersama istri dan anak-anaknya itu baru pertama kali berkunjung ke objek wisata tersebut. Dia penasaran dengan cerita dari temannya tentang indahnya hutan mangrove di sana. “Saya tahunya dari teman, katanya bagus,” kata dia yang merupakan warga Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes ini.
Namun, kata dia, masih banyak yang harus diperbaiki oleh pihak pengelola. Salah satunya tempat sampah yang masih jarang. Hal itu membuat pengunjung kebingungan dan banyak yang membuang sampah sembarang. “Akses menuju lokasi rusak parah. Tempat parkir juga masih kirang, apalagi kalau banyak pengunjung kayak gini,” ujar dia. (Koran Tempo)

LEAVE A REPLY