Kisah Jalur Mudik dari Masa ke Masa – Panturapost.com
Minggu, Mei 28, 2023
Panturapost.com
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
    • Brebes
    • Kota Tegal
    • Tegal
    • Pemalang
    • Kajen
    • Pekalongan
    • Batang
  • Kolom
    • Catatan Pekan Ini
    • Opini
    • Moci
    • Kolom Kolam
    • Sejarah
  • Jateng
  • Wisata
  • Olahraga
  • Video
  • Ngapak
  • Kuliner
    • Resep
  • Inspire Slawi
  • Advertorial
  • Kamus
Panturapost.com
No Result
View All Result
Panturapost.com
No Result
View All Result
Home Sejarah

Kisah Jalur Mudik dari Masa ke Masa

Dari Groote Postweg, Jalur Pantura hingga Tol Trans Jawa

Wijanarto by Wijanarto
9 Mei 2022
4 min read
0
Kisah Jalur Mudik dari Masa ke Masa

Pantura Raya zaman dulu.

Share on FacebookShare on Twitter

             Arus mudik dan balik Lebaran tahun 2022 menyita perhatian semua pihak. Ini disebabkan, permasalahan arus mudik bukan hanya kepentingan masyarakat pemudik, namun melibatkan kebijakan Pemerintah dalam mengatur tradisi tahunan ini. Mudik tahun ini, merupakan mudik yang berbeda dengan mudik 2 tahun, yang masih disergap bayang-bayang pandemik Covid 19, sehingga timbul pembatasan. Di tahun ini, katup pengekangan mudik Lebaran 2022 benar-benar dibuka Pemerintah. 

           Menyediakan sarana mudik yang aman dan nyaman merupakan hal yang menjadi tanggung jawab Pemerintah. Tidak hanya penyediaan moda transportasi publik, tapi juga ketersediaan infrastruktur jalan. Hampir dalam rangkaian pelaksanaan mudik semua perhatian tertuju pada ramainya jalur mudik di Jawa sebagai sentralnya. Khususnya jalan tol Trans Jawa sebagai poros utama yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya dan kota-kota sekitarnya.

         Catatan dari pihak Jasa Marga seperti dikutip dari Detik.com (3/5-2022) menyebutkan jumlah kendaraan secara kumulatif melewati Trans Jawa dari H-10 hingga H hari pertama Lebaran yang meninggalkan Jabodetabek ada 709.353 kendaraan . Terdapat peningkatan dari hari normal. Peningkatan itu mencapai 93,9 %. Itu belum terhitung dengan mereka yang menggunakan moda transportasi kereta api, kapal laut dan pesawat.

ADVERTISEMENT

        Jalan raya merupakan alternatif utama bagi pelaksanaan arus mudik dan balik di Indonesia. Kebijakan pembangunan infrastuktur terkait dengan sarana jalan merupakan prioritas bagi terwujudnya kenyamanan dan keamanan mudik oleh Pemerintah. Ketersediaan jalan sebagai arus lalu lintas mudik menjadi krusial. Sejak Tol Trans Jawa diresmikan bagi arus mudik tahun 2018 telah mengubah peta arus mudik di Jawa yang semula menggunakan ruas jalur Groote Postweg (Daendels) hingga jalur pantai utara (pantura) . 

Baca Juga

Cerita Mudik: Saat Balita 3 Tahun Terpisah dari Ortu Saat di Rest Area Heritage Brebes

Cerita Mudik: Saat Balita 3 Tahun Terpisah dari Ortu Saat di Rest Area Heritage Brebes

1 Mei 2023
Arus Balik Masih Terjadi di Brebes, Kendaraan Pemudik Mengular hingga 8 Km

Arus Balik Masih Terjadi di Brebes, Kendaraan Pemudik Mengular hingga 8 Km

30 April 2023

       Ambisi pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mewujudkan akses transportasi jalan tol Jawa dari Merak hingga Banyuwangi yang mencapai 1.150 km. Ini bukan hal pertama, karena rintisan pembuatan jalan tol telah diupayakan sejak tahun 1978. Pada masa kekuasaan Soeharto jalan tol yang telah dibuat adalah ruas tol Cikampek-Jakarta serta ruas tol Jagorawi. Tol Trans Jawa bersaing dengan ambisi Herman William Daendels yang membangun jalan Groote Postweg dari Anyer hingga Panarukan.

       Infrastruktur jalan tidak hanya mengatur mobilitas sosial dan keterjangkauan akses, namun menyasar pula soal ruang kontestasi politik. Ini yang diungkapkan Jamie S.Davidson, Menaja Jalan :Ekonomi Pembangunan Infratruktur Jawa (2019). Apa yang disampaikan Jamie S.Davidson menyebutkan soal pendekatan politik dalam pembangunan jalan tol yang berkaitan dengan kelembagaan yang memadai, relasi Pusat dengan daerah sekaligus friksi penyelesaian pertarungan negara dengan masyarakat soal tanah.

Bedakan Jalan Daendels dengan Jalan Pantura

       Cikal bakal Jalan Trans Jawa adalah jalan Daendels yang dirintis oleh Herman William Daendels . Jalan ini dibuat menurut Endah Sri Hartati, Dua Abad Jalan Raya Pantura : Sejak Era Kerajaan Mataram Islam Hingga Orde Baru (2018), untuk keperluan pertahanan dan kontrol wilayah. Sehingga jalan Daendels bukan sekadar ambisi Gubernur Daendels merealisasikan sepotong jalan seperti Paris hingga Amsterdam, namun merupakan pertarungan politik bagaimana mempertahankan Jawa dari Inggris kala itu. Selain untuk memudahkan pengiriman jasa pos dan arus pengiriman barang komodutas perkebunaan. Jalan Daendels memiliki lebar 7,5 meter dan setiap 1506,9 meter diberi tanda berupa pall, tonggak batu sebagai penanda panjang jalan dan tanda untuk merawat dan memperbaiki jalan oleh distrik dan penduduk setempat.

      Jalan Daendels  dimulai dari Batavia (Jakarta) menuju ke Buitenzorg ( Bogor) hingga menyambung ke Karangsambung. Namun saat dibangun dari Cheriboon menuju Timur melawati Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Semarang, Rembang, Tuban  sampai Panarukan ada menyebutnya dengan istilah Jalan Raya Pantura. Karena ruas jalan ini melewati Kawasan pesisir pantai utara. Setiap titik terdapat tempat untuk peristirahatan dan penggantian kuda yang dikenal dengan pesanggrahan atau brak. 

ADVERTISEMENT

      Istilah Pantai Utara Jawa khususnya di Jawa Tengah, seperti dituturkan Endah Sri Hartati (2018 : 41) dalam majalah Indie dengan judul artikel “Een en Ander over het Verkeerwezen in Noord Midden Java” April 1923. Menurut Endah yang menjadi staf pengajar di Undip Semarang tersebut, bahwa jalan Raya Pantura merupakan jalan sebelumnya semasa Mataram Islam dan Groote Postweg.   

    Arus mobilitas jalan Raya Pantura menjadi semakin strategis ketika Jalan Raya Pantura ditetapkan sebagai jalan utama Nasional serta urat penyangga ekonomi nasional.  Sejak tahun 1920-an Jalan Raya ini bersaing dengan  transportasi kereta api yang mulai tertata. Beberapa perusahan partikelir telah mendapatkan konsesi trayak dan pembuatan rel kereta api seperti Nederlandsch Indies Spoorweg (NIS) yang membuka jalur Semarang hingga ke Vorstenlanden. Semarang Cheriboon Stroomtram Maatschappij (SCS) yang beroleh konsesi trayek Semarang hingga Cirebon melewati kota-kota pesisir seperti Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes. Terdapat pula perusahaan Semarang Joewana Stroomtraam Maatschappij yang melintas Semarang hingga Juwana.

        Arus perubahan transportasi darat melalui Jalan Raya Pantai Utara telah menciptakan relasi dengan wilayah hinterland dan persebaran wilayah-wilayah ekonomi baru dan mentalitas sebagai masyarakat pantura dengan hiruk pikuknya. Termasuk saat pelaksanaan tradisi mudik. Peningkatan perbaikan jalan Pantura akan dikebut serta pemerintah melarang masuk kendaraan angkutan truk barang mulai h-7 hingga setelah :Lebaran demi lancarnya kenyamanan pemudik. Taruhan pemerintah ada pada tradisi mudik sebagai bagian dari kontestasi menaja jalan. Seperti saat tragedi Brebes Exit Timur  (Brexit) . Tragedi kemacetan parah Lebaran 2016 di ruas tol Brebes Timur menjadikan pembelajaran. Termasuk Lebaran tahun ini, persoalan mudik tetap menyisakan pemandangan soal kemcetan dan rekayasa lalu lintas.

      Namun ada hal yang menyisakan soal tersisihnya Jalan Raya Pantura. Wilayah rest area di pantura menjadi redup. Ini sama kisah dalam film Cars soal redupnya wilayah Radiator Springs  setelah munculnya jalan baru yang menghemat waktu. Dinamika jalan  dan kota seperti kita mengamini tembang Our Town-nya James Taylor :

       Long ago, but not so very long ago

       The world was different, oh yes it was

      Your settled down and you built town and made it live

 

—

Wijanarto, Sejarawan                                                 

Tags: Jalur PanturaMudikSejarah Mudik
ShareTweetSendShareShare
ADVERTISEMENT

Related Posts

Titi Mangsa Berdirinya Rumah Sakit Kardinah
Sejarah

Titi Mangsa Berdirinya Rumah Sakit Kardinah

25 Mei 2023
Regentschapsraad Brebes dan Ruang Partisipasi Politik Warga
Sejarah

Regentschapsraad Brebes dan Ruang Partisipasi Politik Warga

12 Mei 2023
Kisah Sadjiroen, Bupati Brebes Tersingkat
Sejarah

Kisah Sadjiroen, Bupati Brebes Tersingkat

5 Mei 2023
Awal Mula Tradisi Pecingan Saat Lebaran
Sejarah

Awal Mula Tradisi Pecingan Saat Lebaran

17 April 2023

Discussion about this post

TERPOPULER

  • Christine Hakim Kunjungi Spasi Saat Syuting di Tegal

  • 67 Pengurus ASKAB Brebes Masa Bakti 2023-2027 Resmi Dilantik

  • Tak Lagi Rp 20.000, Tiket Masuk Pancuran 13 Wisata Guci Tegal Kini Hanya Rp 7.500

  • Umar, Perajin Replika Robot di Tegal Terus Berinovasi, Kini Bikin Becak Robot dari Barang Bekas

  • Foto: Melihat Aksi Offroader dari Berbagai Penjuru Tanah Air di Cacaban, Tegal

  • Lazismu dan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Tegal Luncurkan Program Tani Bangkit dan Panen Buah Melon Premium

  • 32 Bhiksu Jalani Ritual Thudong, Berjalan Kaki Ribuan KM Menuju Borobudur, Begini Penjelasannya …

MEDIA SOSIAL

  • 139.9k Fans
  • 169 Followers
  • 30.1k Followers
  • 56.8k Subscribers
ADVERTISEMENT
PanturaPost.com

2020 © PT Pantura Siber Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Verifikasi Dewan Pers
  • Karir

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
    • Brebes
    • Kota Tegal
    • Tegal
    • Pemalang
    • Kajen
    • Pekalongan
    • Batang
  • Kolom
    • Catatan Pekan Ini
    • Opini
    • Moci
    • Kolom Kolam
    • Sejarah
  • Jateng
  • Wisata
  • Olahraga
  • Video
  • Ngapak
  • Kuliner
    • Resep
  • Inspire Slawi
  • Advertorial
  • Kamus

2020 © PT Pantura Siber Media

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In